12 Tarian Klasik Yogyakarta Tampil di Dubai World Expo 2021

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mempersembahkan 12 repertoar tari dari Keraton Yogyakarta pada Dubai World Expo atau DWE yang akan berlangsung pada 11 November 2021 di Dubai, Uni Emirat Arab atau UEA.

 Paniradya Pati Kaistimewaan DI Yogyakarta, kata Aris Eko Nugroho, pertunjukan tari keraton merupakan salah satu pertunjukan unik di Expo 2020 Dubai. Demikian disampaikan Aris Eko dalam dialog online pada Rabu, 10 November 2021.

 Yogyakarta menghadirkan tujuh repertoar dalam acara tersebut. Berbagai tarian dibawakan antara lain Golek Bawaraga, Menak Kakung, Klana Topeng, Menak Putri, Golek Ayunayun, Topeng Alus, Srimpi Muncar, Sasanti Manghayuhayu, Beksan Anila Prahasta, Sekar Pudyastuti, Bambangan Cakil dan Regol Gunungsari.

 Aris mengatakan bahwa tari tradisional Keraton Ygyakarta merupakan warisan budaya turun temurun yang keasliannya masih dilestarikan dan disertai dengan nilai-nilai luhur. “Repertoar tari yang direpresentasikan adalah tarian tradisional terbaik yang hanya bisa dibawakan pada acara-acara khusus di depan tamu negara atau saat misi kebudayaan,” ujarnya.

 Pemerintah DI Yogyakarta menghadiri acara ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang Yogyakarta di kalangan masyarakat UEA. Pasalnya, menurut Aris, Dubai merupakan kota ekonomi dengan sekitar tiga juta penduduk, yang hanya 25 persennya berbasis di Uni Emirat Arab. “Ekonomi tinggi di sini karena Dubai adalah penghubung ke dan dari Uni Eropa,” katanya.

 Direktur Promosi dan Pemasaran Biro Pariwisata Yogyakarta Marlina Hidayati mengatakan di Dubai World Expo, biro pariwisata menawarkan berbagai ide dalam forum bisnis pariwisata, yaitu wellness tourism, quality tourism dan pengalaman budaya Yogyakarta. “Semuanya kami tawarkan dengan peralatan premium,” kata Marlina.

 Penawaran ini didasarkan pada potensi wisata Yogyakarta yang memenuhi kriteria 3A yaitu atraksi, pelayanan dan aksesibilitas. Juga pembalikan tren selama pandemi Covid19 pariwisata unik dan wisata berkualitas tinggi, bukan wisata dengan jumlah peserta yang banyak. , juga disebut pariwisata massal.

 “Diperlukan upaya untuk menambah lama waktu yang dihabiskan wisatawan di suatu destinasi agar lebih banyak dana yang dikeluarkannya,” kata Marlina.Caranya adalah dengan memperkuat naratif atau naratif dalam pariwisata.